Senin, 08 Maret 2010

JANGAN KERASKAN HATIMU



Bacaan: Mazmur 95:6-11
Ketika sedang mengetik, mata saya selalu memperhatikan setiap karakter yang muncul di layar monitor laptop saya. Kalau ada kesalahan ketik, saya akan segera menghapus dan menggantinya saat itu juga. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu sehingga hasil ketikan tidak akan jadi berantakan. Namun, ada juga kebiasaan orang yang berbeda. Saat mengetik, ada orang yang malas memperhatikan apakah ada kesalahan ketik. Akibatnya, hasil ketikannya tidak nyaman dibaca karena banyak kesalahan kecil di sana-sini. Parahnya lagi, bila kebiasaan ini dipelihara terus menerus, orang ini akan menjadi pribadi yang teledor yang suka membiarkan kesalahan yang dianggapnya sepele. Hasil kerjanya adalah asal selesai saja.

Ini adalah contoh sepele dari karakter manusia yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang nampaknya remeh. Orang yang terbiasa menebalkan telinga akan menjadi pribadi yang bebal dan tidak peka terhadap situasi di sekelilingnya. Orang yang terbiasa mengabaikan nasihat akan menjadi keras kepala sampai akhir hayatnya.

Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang lembut hati, bukan yang keras hati. Orang yang keras hati disebut sebagai orang yang bodoh. Dan menariknya, kita bisa menjadi orang yang keras hati bukan mendadak secara tiba-tiba. Kekerasan hati terbentuk dari proses. Ibarat kerak pada teko air yang dibiarkan menumpuk terus menerus hingga makin tebal dari hari ke hari.

Ketika Firman Tuhan menegur kita, jangan suka mengabaikannya. Sekali kita mengabaikannya, dua kali kita membiarkannya, lama-lama kita benar-benar menjadi tuli dan tidak bisa lagi mendengar suara-Nya. Adalah lebih bijaksana bila kita memiliki hati yang lembut, yang mudah menerima teguran dan mengakui kesalahan. Dengan demikian kita bisa memperbaiki kesalahan itu segera sebelum jadi bola salju yang terus membesar. Ketika Firman Tuhan menegur kita, jangan mengabaikannya. Ketika nasihat ortu dilontarkan, jangan mengabaikannya. Jangan menjadikan telinga kita sendiri menjadi tuli. Justru pertajam pendengaranmu menjadi semakin peka dari hari ke hari.

Iman Kepada Agama Atau Iman Kepada Yesus

Bacaan: Yohanes 14:1-14

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.- Yohanes 14:6

Begitu banyak orang membangga-banggakan agamanya. Selalu berkata bahwa agamanyalah yang paling baik dan paling benar. Dengan sikap yang seperti ini, lahirlah fanatisme yang berlebihan terhadap agama yang diyakininya. Kalau sudah begini, bisa-bisa tindakan apapun juga akan dilegalkan demi membela agamanya. Itu sebabnya tak perlu kaget kalau ada istilah perang suci atau “bom suci”. Dendam, pembunuhan, bahkan pembantaian hanya demi membela agama yang dianut.

Berbicara tentang hal ini, kita tahu bahwa agama memiliki rapor merah yang begitu banyak. Sejarah mencatat rapor merah agama, mulai dari para pembunuh Khawarij pada abad ke-7 sampai dengan “bom suci” di masa sekarang ini. Di kalangan kristiani juga pernah terjadi hal yang tak kalah mengerikan. Sekelompok kaum Protestan dibakar hidup-hidup oleh seorang ratu Inggris yang Katolik pada pertengahan abad ke-16. Demikian juga menurut sebuah gambar terbitan Antwerp, Belgia, tampak kelompok Protestan yang menamakan dirinya “Huguenots” memancung korbannya dengan sangat keji. Ngomong-ngomong soal Yesus, bukankah dalang di balik penyaliban Yesus juga adalah dari kelompok agama?

Itu sebabnya sangat keliru kalau kita memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap agama, termasuk agama Kristen sekalipun! Sekali lagi bahwa agama tidak akan pernah bisa menyelamatkan kita. Alkitab tidak pernah berkata, apalagi menjamin bahwa setiap penganut agama Kristen akan masuk sorga. Agama bukan jalan. Yesus lah jalan! Itu sebabnya iman kita seharusnya kepada Yesus, bukan kepada agama yang kita anut.

Pemahaman yang seperti ini akan menghindarkan kita dari tindakan-tindakan konyol hanya dengan dalih untuk membela agama. Agama hanyalah wadah dan bukan intinya. Apapun alasannya, intinya haruslah tetap Yesus. Itu sebabnya saya tidak pernah bangga hanya menjadi orang Kristen, tapi saya sangat bangga menjadi pengikut Kristus. Kalaupun saya melakukan hal-hal rohani, saya tidak melakukan demi agama, tapi saya melakukannya demi Kristus. Saya tidak melayani agama, saya melayani Kristus. Saya tidak mau berkorban hanya demi agama, tapi saya akan berani habis-habisan demi Kristus. Saya tidak mau mati demi agama, tapi saya mau hidup demi Kristus. Bagaimana dengan Anda?